Minggu, 04 Oktober 2015

Kasus Manipulasi Pajak PT BCA

Setelah mengulas masalah kasus pajak yang ada di BCA, saya jadi tertarik dan mulai mencari tahu lebih jauh kasus-kasus pajak yang ada di Indonesia. Saya mendapatkan sebuah kesamaan kasus yang terjadi di beberapa perusahaan besar di Indonesia, seperti Bakrie Group, BCA, PT. Metropolitan Retailmart, Asian Agri, Berau Coal, dan lain sebagainya. Kasus manipulasi pajak ini rupanya tidak hanya terjadi sekali, melainkan begitu banyak perusahaan yang terlibat dalam kasus tersebut.

Masih ingatkah pembaca dengan nama Gayus Tambunan, seorang petugas pajak yang menerima suap terkait pengurusan permohonan keberatan pajak. Kasus Gayus sama dengan kasus pajak yang menimpa Hadi Poernomo, dan BCA.

Gayus Tambunan dipidana karena terbukti menerima suap uang sebesar Rp 925 juta rupiah dari Roberto Santonius terkait kepengurusan gugatan keberatan pajak PT Metropolitan Retailmart dan menerima 3,5 juta dollar Amerika dari Alif Kuncoro terkait kepengurusan pajak tiga perusahaan Grup Bakrie, yakni PT Arutmin, PT Kaltim Prima Coal, dan PT Bumi Resource.

Gayus Tambunan dinilai telah terbukti menerima suap dan melakukan tindak pencucian uang dari tiga perusahaan Bakrie Group senilai 7 juta dollar AS, lalu membagi uang itu ke Alif Kuncoro, Imam Cahyo Maliki, Maruli Pandapotan Manurung, dan pejabat-pejabat di Ditjen Pajak lain. “Saya terima tiga juta dollar AS,” kata Gayus.

Gayus menjelaskan sumber dana yang dia terima ketika masih bekerja di Direktorat Jenderal Pajak, yakni dari PT Bumi Recources, PT Arutmin, dan PT Kaltim Prima Coal. Dengan suap tersebut Bakrie Group menginginkan Gayus Tambunan melakukan tiga pekerjaan, PT Bumi Resources mengajukan banding tahun 2005, Gayus diminta untuk membuatkan surat banding, surat bantahan-bantahan, dan termasuk persiapan apa saja yang dibutuhkan dengan imbalan sebesar 3 juta dollar AS yang kemudian ia bagikan kepada Alif Kuncoro, Imam Cahyo Maliki, Maruli Pandapotan Manurung.
Serupa dengan kasus Gayus Tambunan dengan sejumlah perusahaan terkait pengurusan permohonan keberatan pajak, kasus yang sama juga terulang di tubuh Bank BCA dengan Hadi Poernomo-nya, namun bedanya apabila kasus Gayus sudah tuntas, kasus penggelapan pajak yang menyeret PT. Bank BCA Tbk dalam daftar hitam penyelidikan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) masih saja belum mencapai kata final sejak dibukanya penyelidikan pada tahun 2003 silam.

Peran Hadi Poernomo dalam kasus pajak BCA diduga menyalahgunakan wewenangnya sebagai Dirjen Pajak dengan dengan membuat Surat Keputusan (SK) yang melanggar prosedur terkait permohonan keberatan wajib pajak yang disampaikan oleh pihak Bank BCA. Hadi Poernomo selaku dirjen pajak diduga memanipulasi telaah direktorat PPH mengenai keberatan SKPN PPH BCA. BCA mengajukan surat keberatan wajib pajak dengan nilai yang cukup fantastis yakni sebesar Rp 5,7 triliun terkait kredit bermasalah-nya atau  non performance loan (NLP) kepada direktorat PPH Ditjen Pajak pada 17 Juli 2003.

Setelah ditelaah oleh Direktorat PPH, permohonan keberatan wajib pajak yang diajukan BCA ditolak, namun oleh Hadi Poernomo selaku Dirjen Pajak mengintruksikan Direktur PPH yang semula menolak menjadi menerima seluruh permohonan keberatan wajib pajak yang dilayangkan pihak BCA sehari sebelum masa jatuh tempo pemberian keputusan final.

Oleh putusan Hadi Poernomo tersebut, diyakini BCA telah merugikan negara dengan tidak membayar pajak sebesar Rp 375 miliar.

Selain itu, keputusan Hadi Poernomo mengabulkan permohonan keberatan pajak yang diajukan BCA juga semakin terasa janggal apabila mengingat hal serupa juga dilayangkan Bank Danamon perihal keberatan pajak atas nilai transaksi sebesar Rp 17 triliun tetapi ditolak oleh pengadilan pajak. Anehnya, hal ini serupa namun hasilnya berbeda.

Dalam kasus ini KPK menetapkan Hadi Poernomo sebagai tersangka dengan dikenakan ancaman hukuman maksimal 20 tahun dan denda paling banyak Rp 1 miliar berdasarkan pelanggaran terhadap pasal 2 ayat 1 dan atau pasal 3 UU no 31 tahun 1999 sebagaimana diubah dengan UU No 20 tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP. Dimana pasal tersebut mengatur mengenai setiap orang yang melawan hukum melakukan perbuatan memperkaya diri sendiri atau orang lain atau korporasi yang dapat merugikan keuangan negara maupun setiap orang yang menyalahgunakan kewenangan.

Selain dua kasus besar di atas, ada juga contoh kasus manipulasi pajak yang menimpa perusahaan besar di Indonesia. Asian Agri dengan 14 anak usahanya terbukti tidak bayar pajak sebesar Rp 1,259,9 triliun selama empat tahun, sehingga dikenakan sangsi atau denda pajak sebesar Rp 653,4 miliar.

Maraknya kasus manipulasi pajak di Indonesia, saya harap instansi terkait pengawas pajak bekerja lebih keras untuk meminimalisir adanya kasus-kasus serupa di masa yang akan datang. Selain itu, KPK juga baiknya segera menuntaskan pengusutan kasus manipulasi pajak yang masih menggantung.

PEMBAHASAN

  1. Tanggung jawab profesi;  dimana seorang petugas pajak harus bertanggung jawab secara professional terhadap semua kegiatan yang dilakukannya. Petugas pajak kurang bertanggung jawab karena Peran Hadi Poernomo dalam kasus pajak BCA diduga menyalahgunakan wewenangnya sebagai Dirjen Pajak dengan membuat Surat Keputusan (SK) yang melanggar prosedur terkait permohonan keberatan wajib pajak yang disampaikan oleh pihak Bank BCA.
  2. Kepentingan Publik; dimana petugas pajak harus bekerja demi kepentingan publik. Dalam kasus ini perusahaan besar di Indonesia diduga tidak bekerja demi kepentingan publik, karena diduga sengaja memanipulasi pajak sehingga perusahaan-perusahaan besar di Indonesia yang seharusnya menderita kerugian namun karena manipulasi pajak tersebut perusahaan-perusahaan tersebut terlihat mengalami keuntungan. Hal ini tentu saja sangat merugikan negara.
  3. Integritas; dimana petugas pajak harus bekerja dengan profesionalisme yang tinggi. Dalam kasus ini petugas pajak serta dirjen pajaknya tidak menjaga integritasnya, karena diduga telah melakukan manipulasi.
  4. Objektifitas;  dimana petugas pajak harus bertindak obyektif dan bersikap independen atau tidak memihak siapapun. Dalam kasus ini petugas pajak serta dirjen pajak diduga tidak obyektif karena diduga telah memanipulasi pajak perusahaan besar tersebut yang nilainya cukup fantastis sehingga hanya menguntungkan pihak-pihak tertentu yang berada dilingkup pajak tersebut.
  5. Kompetensi dan kehati-hatian  professional; Petuga pajak dituntut harus melaksanakan jasa profesionalnya dengan penuh kehati-hatian, kompetensi, dan ketekunan, serta mempunyai kewajiban untuk mempertahankan pengetahuan dan keterampilan profesionalnya pada tingkat yang diperlukan. Dalam kasus ini, petugas pajak tidak melaksanakan kehati-hatian profesional sehingga terjadi manipulasi pajak yang dapat merugikan negara.
  6. Perilaku profesional; Petugas Pajak sebagai seorang profesional dituntut untuk berperilaku konsisten selaras dengan reputasi profesi yang baik dan menjauhi tindakan yang dapat mendiskreditkan (mencoreng nama baik) profesinya. Dalam kasus ini petugas pajak diduga tidak berperilaku profesional yang menyebabkan terjadinya kesepakatan dan mengeluarkan wewenang yang seharusnya tidak dikeluarkan. Dan hasilnya akan dipertanyakan orang banyak ketika ada kasus yang sama namun hasil dari pengadilan berbeda.
  7. Standar teknis;  petugas pajak dalam menjalankan tugas profesionalnya harus mengacu dan mematuhi standar teknis dan standar profesional yang telah ditentukan. Petugas pajak mempunyai kewajiban untuk melaksanakan penugasan dari negara, selama penugasan tersebut sejalan dengan prinsip integritas dan obyektifitas. Dalam kasus ini petugas pajak tidak melaksanakan tugasnya tidak secara profesional sesuai dengan prinsip standar teknis karena dirjen pajak mengabulkan permohonan keberatan pajak yang diajukan BCA. Yang semula ditolak permohonan tersebut  menjadi menerima seluruh permohonan keberatan wajib pajak yang dilayangkan pihak BCA sehari sebelum masa jatuh tempo pemberian keputusan final. Kasus yang serupa di alami oleh Bank Danamon perihal keberatan pajaknya namun ditolak oleh pengadilan pajak.

Minggu, 28 Juni 2015

Why Take the TOEFL Test?

More than 9,000 colleges, universities and agencies in more than 130 countries rely on TOEFL test scores to help make admissions decisions.

More Convenient
You can take the TOEFL test at your choice of conveniently located, ETS-approved test sites around the world. You also save time and money since the entire test is given in one day, rather than coming back a second day like some other tests.

Measures Academic Skills
The TOEFL test helps prove you have the English skills you will actually use in an academic classroom. In the test, you may read a passage from a textbook and listen to a lecture and then speak or write in response, just like you would in a classroom. Because the test is composed of 100% academic questions and tasks, many universities consider it the most appropriate test to use when making admissions decisions.

Rates Speaking More Fairly
Sure, you can take a test with a Speaking interview, but what if your interviewer has a bad day and rates you lower than you deserve? With the TOEFL test, there's no doubt your score is more objective and reliable, because Speaking responses are recorded and evaluated by three to six ETS raters rather than only one rater from a local testing site.

Scores Help You Stand Out
TOEFL test scores help you stand out because of the TOEFL test's reputation for quality, fairness and 100% academic content. It is the most widely accepted English-language test in the world, including more than 9,000 colleges, universities, agencies and other institutions in 130 countries. And that list includes the top 100 universities in the world.
By sending TOEFL scores to your selected university, you will be proving that you are ready for academic success.

sumber : https://www.ets.org/toefl/why/

Jumat, 29 Mei 2015

TOEIC vs TOEFL



TOEIC vs TOEFL

             If English is not your first language than it is more than likely that you will at some point take the TOEIC test or the TOEFL test. It is important that you know the differences between these two popular English tests. These two tests are used in different ways and are used by different groups of people to measure a person's English ability. Let's take a look below at the differences between TOEIC vs TOEFL.

What are the differences between TOEIC vs TOEFL?

           The TOEIC test is for people who want to work in a job that uses English. The TOEIC test measures a person’s English ability in the workplace. So if you are applying for a job or trying to get a promotion this is the test you need to take. Many people also like to use the TOEIC test to better understand how well they can speak English. Even if you don't plan on working in a job where you need English you can still use this test to measure your English ability.The TOEFL test is for people who want to study abroad in a language school or a university. The TOEFL test measures a person’s English ability for academic studies. Basically if you want to study at an ESL program abroad or would like to apply to enter a university or college you need to take the TOEFL test.

Who takes the TOEIC test?

         Basically anyone who needs to use English in their job. Employees in international corporations. Job applicants. Students in business, vocational, and trade schools, community colleges. Students in the business track of English language programs/schools.

Who takes the TOEFL test?

          Basically anyone who wants to study in a foreign university or college. Students in the academic track of English language programs/schools. Students in colleges or universities that have a language requirement.Applicants to scholarship and exchange programs.

What are the test formats?

          The TOEIC test was originally a 2 part test that measured a student's English reading ability and listening ability. Now they have another test that measures a student's speaking and writing skills. Check with your company or organization for which test they want you to take. They offer a traditional paper test but you can also take the tests online. The TOEIC reading and listening test usually takes 2 and a half hours to finish. The TOEIC speaking and writing test takes about 80 minutes.

        The TOEFL test can only be taken online .It measure's a person't reading, speaking, listening and writing skills. The test usually takes about 4 and half hours.

What are the differences in content?

       The content is very different between the TOEIC test versus the TOEFL. The TOEIC test is focused on business English so you will see topics ranging from contracts and marketing to eating out and buying a train ticket.

      The TOEFL test on the other hand is focused on the university and academic worlds. So you could have to read someone's flyer looking for a new roommate or listen to a class lecture on ancient history.


Comparing TOEIC and TOEFL Scores


ETS research indicates a fairly strong relationship between the TOEIC and TOEFL tests (r = .75). People who score highly on one test also tend to score highly on the other. However, while the two tests are broadly related in that they both measure English proficiency, the purposes, contexts, uses, and scales of the two tests are different. Therefore, only general comparisons should be made between scores on the two tests. The table below shows only that a student who scores within a certain TOEIC score range is likely to score within a corresponding TOEFL score range. It does not mean
that the TOEIC test is equivalent to the TOEFL test or that both tests assess English proficiency equally well at all levels

The table below shows the approximate relationship between scores on the two tests. This comparison is based on a subsample of 360 examinees who participated in a broader study that included 1,162 students from language programs in community colleges, four-year institutions, and proprietary intensive English programs across North America. Students were drawn from all proficiency levels and came from many different countries. 

Score Range Comparison
TOEIC
TOEFL
50 – 100
272 – 291
100 – 150
291 – 311
150 – 200
311 – 331
200 – 250
331 – 351
250 – 300
351 – 371
300 – 350
371 – 390
350 – 400
390 – 410
400 – 450
410 – 430
450 – 500
430 – 450
500 – 550
450 – 470
550 – 600
470 – 489
600 – 650
489 – 509
650 – 700
509 – 529
700 – 750
529 – 549
750 – 800
549 – 569
800 – 850
569 – 588
850 – 900
588 – 608
900 – 950
608 - 628
950 – 990
628 – 644

 

sumber :  http://www.goodwinenglish.com/toeic-vs-toefl/